Friday, June 29, 2012

Mozaik dalam Lubuk Negeri


 Pantai, pasir, langit, dan senja adalah pengalaman dari ingatanku yang tersisa tentang kepergian ayah. Aku terbalut sakit dan trauma. Sakit karena kehilangan yang ku alami.
Daniel Gottlieb dalam bukunya Letter to Sam pernah mengatakan bahwa rasa sakit, bahagia, benci, bahkan cinta adalah emosi yang sifatnya transisional. Emosi itu datang, lalu pergi, sesekali melejit, membakar, lalu padam.
Gotlieb benar, yang aku butuhkan adalah waktu karena emosi terhadap kehilangan mendalam yang aku rasakan belasan tahun yang lalu sifatnya tidak akan abadi.
Tahun 2009 adalah tahun dimana aku merasakan emosi akan kehilanganku  mereda. Tahun dimana aku melepaskan diri dari rasa takut akan laut. Tahun dimana aku memberanikan diri menantang traumaku. Tahun pertamaku menginjakkan kaki di atas pasir pantai Bira. Sungguh, ini adalah sebuah pertarungan besar dalam jiwaku.
Kurasakan, sesekali angin mengusikku dengan aroma garam yang menyengat. Aroma yang kembali menarikku merasakan emosi yang telah padam. Menakutiku dengan bayang-bayang ombak yang menghantam kapalku.
Ada bahagia hati kecilku berbisik, aku hebat telah membuka tirai yang memisahkanku dari sisi dunia terindah. Yang kupuja-puji. Yah inilah, pantai, laut, dan langit. Sisi dunia yang paling menggodaku, yang membuatku jatuh cinta. Di pantai Bira itu, kurasakan diriku jatuh cinta dengan semua fenomena alam yang berparade di depan mataku saat itu.
Kubiarkan kakiku melangkah, selangkah demi selangkah. Aku terus melangkah. Lalu sesekali aku berhenti dan membalikkan badan. Dan kulihat jejak kakiku di pasir-pasir itu. Sungguh aku tak percaya atas apa yang telah kulakukan. Sesekali aku bertanya “aku kah ini?” sulit rasanya untuk menjawabnya. Kubalikkan kembali badanku, menghadap laut dan kembali berjalan. Kulihat angin menggoda ombak dan pasir untuk memperbarui diri. Sungguh anggun mereka bergerak. Dan yah, mereka cantik.
Saat matahari telah duduk di puncaknya, aku dan sahabatku memutuskan untuk mengunjungi Tana Beru. Tempat dimana aku belajar budaya masyarakat di tanah itu. Tempat dimana aku ditarik menyelami rupa budaya, nilai, keyakinan, dan mimpi. Dan tempat dimana kusaksikan orang-orang mencurahkan jiwanya ke dalam sebuah maha karya. Sebuah kapal bernama phinisi.
Kusisiri setiap lekuk badan phinisi yang terbuat dari kayu. Aku takjub dengan keanggunannya. Aku takjub dengan mimpi besar orang-orang di tanah ini yang mereka bangun atas budaya dan nilai yang digenggamnya.
Sungguh phinisi ini cantik. Dua tiang layarnya berdiri dengan angkuhnya. Tujuh layarnya terbentang seakan menantang tujuh samudera untuk diarungi. Lunasnya dihadapkan ke timur laut yang ditopang dengan dua tunas yang mewakili simbol anak adam dan ais. Inilah phinisi yang selama ini hanya hidup dari bayangan miniature yang kulihat di pertokoan.
Seorang punggawa (gelar bagi orang lokal yang dipercayakan untuk membacakan mantera dalam sebuah ritual) menghampiriku, membawaku tenggelam dalam sejarah maha karya ini diciptakan oleh Sawerigading menjadi saksi perjalanannya menuju Tiongkok untuk meminang We Cudai. Maha karya yang lahir untuk menghentakkan lautan, menggetarkan dunia, meninggalkan derap kagum dalam hatiku atas kelahirannya dan atas kisahnya.
Kisah phinisi dalam pemahamanku adalah seperti angin yang datang, pergi, dan disusul dengan angin lainnya. Phinisi yang diciptakan oleh Sawerigading saat itu lahir sebagai karya, lalu menjadi kapal yang menjelajahi dunia, kemudian terberai disapu ombak. Namun, kelahirannya telah menginspirasi dunia dan menyisakan ragam nilai untuk dipadankan dengan budaya, bahkan ritus.
Ritus yang disematkan dengan teguh atas setiap kelahiran phinisi dikenal dengan ammosili dan appasili. Ritus yang dimulai saat gelap, saat jutaan bintang bersinar, mengindahkan langit. Ammosili lahir dari rahim keyakinan bahwa doa, pujian, dan harap adalah senjata ampuh yang memproteksi diri dari musibah. Ritus ammosili lalu dilanjutkan dengan appasili yaitu peletakan lunas di pusat kapal. Appasili sesungguhnya adalah metafora kelahiran anak yang lalu diputuskan tali pusarnya dan dinyatakan siap untuk merasakan dunia dan menjumpa ragam hidup.
Kedua ritus tersebut adalah representase budaya, nilai, dan keyakinan yang dibangun dan diabadikan dalam masyarakat di tanah ini. Phinisi adalah konstruksi mimpi besar orang-orang di tanah ini untuk menyelami rupa-rupa petualangan, mimpi untuk berparade dan berpencar ke arah yang tidak tereka. Karena jiwa dan darah bugis Makassar adalah merantau, phinisi adalah jiwa yang membawa mereka menjalani mimpi-mimpi besar.
Entah karena mimpi besar orang-orang di tanah ini atau karena keteguhan mereka, tak sedikit turis asing yang terkagum-kagum bahkan memesan phinisi dari mereka. Phinisi yang lahir dari nilai, budaya dan keyakinan itu dihargai milyaran rupiah. Nilai yang sepadan untuk sebuah kerja keras.
Pikiranku lalu menarikku untuk kembali mencermati peristiwa-peristiwa dimana nilai-nilai budaya dikesampingkan. Dipandang sebelah mata. Dinilai sebagai sebuah diagnosis, sebuah masalah. Kadang hanya dilirik. Tidak diakui. Dianggap primitif. Lalu ditinggalkan.
Namun phinisi lalu lahir sebagai mozaik untuk mematahkan semua pandangan-pandangan itu. Sebuah mozaik yang membuktikan bahwa budaya yang terkandung dalam lubuk tanah ini adalah lubuk kekayaan yang sesungguhnya. Dan atas kelahirannya, phinisi menjadi arti, nilai, dan bahkan jiwa bagi negeri ini. Sebuah arti yang telah dinilai oleh negeri di luar sana. Dan aku tidak sabar menantikan orang-orang di negeri ku Indonesia merasakan arti menjadi luar biasa dengan menyandang kultur dan nilai dalam lubuk negeri ini.
Sekali lagi kurasakan jantungku meletup-letup ketika kembali kusisiri badan phinisi. Kuakui, kehadirannya menambah kualifikasi cantik tanah ini. Dan phinisi itu benar-benar membuatku merasakan bangga yang tak terhingga menjadi bagian dari tanah, pulau, dan negeri tumpah darahku. 
Sungguh atas nama hidupku, tak ada mozaik seindah itu bagi jiwaku untuk mempelajari apa artinya menjadi manusia dan berbangga atas budaya, nilai, dan keyakinan yang menjadi roh tanah ini, mozaik negeri ini.

 

Friday, February 17, 2012

root of love


Dia pria kecil—baik perawakan tubuhnya maupun hal yang telah dia lakukan untuk dunia. Dia hanya menikahi perempuan yang dikaguminya dan mendampingi lima anak yang akan memahami cinta dan belas kasih dalam hidup. Dia memaknai hidup dan cinta sebanyak waktu yang dia miliki.
Sejak sepersepuluh abad lalu, perempuan itu sendirian mendampingi anak-anak itu karena dia tak menemukan orang yang tepat untuk bersamanya berbagi cinta. Kehilangannya nyata karena dia telah mencinta dan dicintai dengan begitu dalam.
* * *
Tubuhnya tidak begitu besar, namun entah vitamin apa yang membuat pria itu memiliki cinta yang begitu besar kepada perempuan yang setelah enam tahun baru menyadari cintanya.
Pria itu mencintainya seluas langit dengan seluruh hatinya sementara perempuan itu melihat rasa itu beriringan dengan logikanya. Hatinya tidak merasakan cinta itu karna mata dan logikanya lah yang berperan.
Hingga pria itu melepaskannya, dia merasakan hatinya kosong. Tak pelak, dia merasakan sakit karena kehilangan orang yang sangat mencintainya. Dia kehilangan cinta yang seharusnya dia rasakan di hari-hari kemarin.
* * *
Mencintai maupun dicintai ataupun saling mencintai, kehilangan itu adalah hal yang pasti karena semua yang memiliki keterikatan dengan kita akan pergi. Setiap kehilangan, benar, adalah pukulan yang membawa rasa sakit. Dan rasa sakit adalah luka emosional yang bersifat transisional, dimana kita tidak perlu memaksa diri kita untuk segera sembuh.
Daniel Gottlieb pernah menuliskan bahwa semua emosi yang kita rasakan sifatnya sementara; kita bisa menunggu emosi itu berlalu seperti saat kita menunggu bus. Kita bisa menunggu bus dengan rasa sedih, frustrasi, marah, ataupun merasa menjadi korban, tetapi semua perasaan itu tidak akan membuat bus datang lebih cepat. Kita bisa saja menunggu dengan sabar dan santai, tetapi hal itu juga tidak membuat bus datang lebih awal. Seperti umumnya, bus itu akan datang ketika waktunya tiba. Kita hanya harus memiliki keyakinan bahwa bus itu akan datang.
Perempuan yang hingga kini mendampingi lima anaknya, tak lagi merasakan sedih yang dalam atas kehilangannya belasan tahun yang lalu. Meski terkadang dia merindukan seseorang yang dulu dia miliki, seseorang yang mencintai dan dicintainya dengan begitu dalam.
Dia juga punya luka, mungkin hingga detik ini, tapi tidak ada yang salah dengan luka karena luka itu tumbuh dari kehilangan dan kehilangan itu adalah akar dari cinta yang luar biasa.
Dia butuh waktu lebih banyak untuk benar-benar sembuh karena pikirannya juga terlibat di dalamnya dan karena penyembuhan luka tidak mengikuti keinginan. Luka itu akan sembuh dengan waktu dan caranya sendiri. Namun bagaimanapun juga, luka itu hayalah sebuah emosi. Dan tak ada satupun emosi yang abadi.
Hidup dan cinta yang masih dia miliki dari lima anaknya membuatnya masih bisa merasakan bahagia yang dibutuhkan oleh jiwanya. Dan seperti cahaya, cinta itu mampu menerobos ruang yang kosong namun terbuka.
Yang aku harapkan dari perempuan yang dilepaskan oleh pria yang mencintainya seluas langit itu adalah dia tidak memaksa dirinya untuk segera sembuh. Jika hatinya masih seperti dedaunan retak terisak, kuharap dia sudi menjalaninya hingga di persimpangan jalan di depan, hatinya bisa bersemi dan penuh bunga yang bermekaran hingga ratusan musim yang akan datang.
* * *
Seperti angin, rasa sakit itu datang dan pergi. Dan semua kehilangan dalam hidup ini adalah tatanan yang sempurna untuk menghimpun cinta yang berserakan, untuk mengajarkan hati menghargai kenangan, dan untuk merasakan cinta yang luar biasa. 
Maka beruntunglah orang-orang yang bisa melihat ke masa lalu dan hanya merasakan cinta dan syukur dalam hatinya.

Wednesday, February 15, 2012

taste, laughter, 'n love

Fruit salad
when mango, grape, papaya, 'n melon fuse then season with milk, mayonnaise, 'n cheese to taste..
Here, it's my fruit salad which lets me experience how sweet life is..

made, served, 'n captured by Yuyu Ichsani 





 

 Black Choco Frappio is my luscious drinking, made in a flash. I’m amazed at its smooth, its rich taste.
Blended with chocolate, milk, 'n oreo, it yields a delicious in frothy wineglass. It’s creamy and perfect for balmy nights.


made, served, 'n captured by Yuyu Ichsani 






 Chocolate Cherry Sparkling

This sparkling cherry looks like a patisserie or dessert star. Covered up by rich cream, this glossy cake tastes like I have a to-die-for it.


 made, served, 'n captured by Yuyu Ichsani  








 Chocolate Smoothie Icy Cream
Small chocolates sowing on the top garnish the cream covering the chocolate cake.
These chocolates smoothie icy cream may not melt in your hand, but they will certainly melt in your heart.


made, served, 'n captured by Yuyu Ichsani 



chocolate smoothy icy cream

Dream Cream Chilled Chocolate

This cold and creamy chocolate is a luxurious and tantalizing summer treat.
Cocoa, gelatin, milk are joint when the temperature warms up. Added a luscious finishing touch with whipped cream, It’s a truly combination to die for.


made, served, 'n captured by Yuyu Ichsani 

where dishes capture memory of taste, laughter, 'n love

Here it’s another version of fried rice. Wrapped with omelette, it is folded around a filling such as cheese, vegetables, meat. To obtain eye-catching texture, the thousand islands are cross-composed and almost cover the rest of the ingredients.

made 'n served by Yuyu Ichsani
photo by Dody Sunjana
Most enjoyably, the entire thing is slightly assorted allowing the cheese to cover it. All of the flavors are balanced wonderfully – all add just enough kick.






This what to expect for beautiful morning: incredibly current, creative, fresh, full and layered flavors in food that just so happens to be sandwich.. It engulfs the mouth in a saucy, cheesy, sheared-carrot mix that’ll have you fighting over the last dollop.

made 'n served by Yuyu Ichsani
photo by Yuyu Ichsani

Sunday, February 12, 2012

a cup of beauty

Kala itu, garis panjang membelah matahari lalu menyemburkan lazuardi merah menyala-nyala. Dan seperti pasir dan ombak yang tengah memperbaharui dirinya, kulihat perempuan berjejer di tepi pantai. Seperti laut, mereka sibuk. Berusaha menampilkan pose yang dimiliki yang dikiranya akan menambah kualifikasi cantiknya.
Sementara, di belahan dunia lain, seperti dahan-dahan merunduk menekuri nasib, sahabatku duduk menekuk. Kulihat awan di atasnya, mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan tumpah.
Dia mengeluhkan fisiknya. Meratapi dirinya. Merendahkan hatinya hingga tanah lapisan ke tujuh. Dia terus saja meyakinkanku bahwa dirinya tidak cantik. Dia selalu menegurku ketika kulontarkan pujian terhadapnya karna dipikirnya aku telah menyebarkan fitnah atas dirinya. Sungguh, yang dia rasakan melampaui putus asa.
Kadang, melihat dirinya, seperti memandang langit setelah senja. Matanya bulat, bersinar-sinar seperti bintang. Di pipinya terukir lesung yang dalam. Dari sirip-sirip jendela pun, setiap pasang mata bisa melihat betapa bersinarnya dirinya.
Namun perasaan malu telah berhasil menutup hatinya menyadari apa yang dia miliki. Hingga yang terlihat bagiku adalah sebuah purnama yang timbul tenggelam di gumpalan awan.
Saat malam diterangi bintang, keteduhan bercerita bagaimana Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda dan dengan begitulah manusia menyadari bahwa inilah diriku, dan dia adalah dirinya. Yang secara bersamaan, manusia sendirilah yang memberi label atas dirinya dan yang lain.
Karena itulah, pelabelan fisik lalu memaksa kualifikasi cantik tersusun. Hingga, kusaksikan bagaimana kecantikan fisik itu adalah sebuah kecemburuan yang menyeret seseorang untuk mencari rival.
Seperti sayap-sayap kumbang berkilauan terbias warna-warni dedaunan maranta setelah senja, seseorang takkan lagi terlihat indah ketika jiwanya tak bercahaya. Karena cantik tidak hanya menyejukkan mata di saat terang, tapi juga menenteramkan hati di saat gelap. Karena Tuhan, menciptakan terang dan gelap, maka hanya kebaikan dan kebijaksanaanlah yang bersinar abadi.
Seorang filsuf berkata “harta terbesar seringkali tidak ditemukan oleh mata, melainkan hati lah yang menunjukkan jalannya.”
Seketika, definisi cantik yang kupahami meluas, juga saat hatiku dipenuhi kecantikan oleh orang-orang di sekelilingku yang tidak pernah bisa terlihat oleh mataku. Aku berbahagia karna bisa merasakan kecantikan dari seorang sahabat yang teguh menjaga hijabnya. Dari seorang junior yang kata-katanya mampu mendeskripsikan dunia dari buku yang ia baca. Dari saudaraku yang kehadirannya membawa tawa yang tulus. Dari kakak yang ilmunya mencerahkan pengetahuanku.
Lalu aku paham, kecantikan itu lahir dari semua bentuk dan ukuran, dan tak bisa kupungkiri, aku belajar menjadi cantik dari semua yang orang lain beri dalam hidupku.
Dari semua deretan waktu yang melaluiku, kumpulan detik mengurai rupa-rupa pengalaman. Mengajariku untuk melihat kecantikan yang dipancarkan oleh semua ibu. Ketika remaja, mereka cantik. Hingga kini, saat mereka menua, kecantikannya tidak memudar karna mereka bijak mentransformasikan cantiknya dari wajah ke hatinya.
Dan kala matahari berputar di lengkung langit, matahari berbisik ‘aku tahu jalanku kembali’. Seperti itulah aku tersadar bahwa ada jalan dari mata ke hati yang beriringan dengan intelektualitas. Maka cantik itu juga ketika perempuan mengutarakan pikirannya seperti jutaan bintang meledak, tumpah ruah, mengindahkan langit.
* * *
Setiap manusia memiliki sesuatu di dalam dirinya. Sebuah benda ajaib. Yang dalam semua kondisi, seseorang mengabaikan fisik. Baik malam ketika kunang-kunang berbagi cahaya maupun burung yang berbagi nyanyian di ujung tetunan merah, seperti coklat dalam cangkir, perempuan itu cantik walau hanya menyandang nama atas dirinya dan apa yang dia miliki. 
Karena itu, aku ingin setiap perempuan terbang penuh warna. Bermekaran di setiap sudut waktu. Menari-nari dalam hidupnya. Dan bersinar dalam kecantikannya. 


Saturday, February 4, 2012

tentang bahagia


Aku mendapati diriku sebagai seorang workaholic setelah aku terseret karena tuntutan garis takdir yang tertulis untukku sejak 1999. Aku melibatkan diri dalam dunia pendidikan sebagai pengajar sejak aku kuliah semester dua. Tak pelak, aku mulai merasakan indahnya menciptakan materi dari apa yang kuusahakan.
Menjelang dasawarsa karirku dalam dunia pendidikan, aku sadari jiwaku mulai berisik, pemikiranku lalu-lalang. Jiwa dan pemikiranku lalu kembali menyeretku untuk mengembangkan pengalaman mengajarku, dan aku pun bergabung dengan lembaga kursus, juga menjadi seorang pengajar. Ditambah jadwal privat yang kujalani yang saat ini sudah terhitung delapan, benar-benar mengasah ilmuku.
Jiwaku kembali ramai, pemikiranku berpencar, lalu kudapatkan satu titik dimana aku mendapat titik terang dari keduanya—yang kubutuhkan adalah mencoba menyelami aktivitas lainnya. Dan yang kutemukan adalah menjadi seorang translator di dua lembaga sekaligus menarikku menjadi seorang interpreter.
Apa yang kujalani saat ini adalah tuntutan dari keinginanku untuk memenuhi apa yang jiwaku inginkan. Dan karena pikiranku terus menghasut—yang kubutuhkan adalah aku (pikiran) ingin menyelami hidup dengan ilmu dan membaginya dengan orang yang benar-benar akan menghargainya. Dan mungkin dengan jalan itulah, akan kutemukan bahagia untuk hatiku.
Kesendirian pernah mengajariku—materi itu layaknya emosi yang datang dan pergi, mudah berubah, kadang seperti air yang deras, kadang seperti gurun. Karena itu, yang manusia butuhkan bukanlah materi melainkan ada kebutuhan sosial yang diperlukannya untuk menyemarakkan hatinya dengan bahagia.
Mata seringkali mengajariku—bagaimana orang-orang menjadi bahagia dengan kebaikan dan pertolongan yang mereka berikan.
Pernah dan sepertinya selalu terjadi dalam istanaku. Saat itu, aku memasang wajah penuh rasa kasihan dan mengisyaratkan rasa lapar yang tak terbayangkan. Bunda melihatku dan segera membuatkan cake favoritku, meskipun aku sadar penuh, aku tidak menggambarkan cake itu di mataku.
Tak lama, cake itupun jadi dan entah pada hitungan ke berapa cake itu seolah menguap ke langit. Senyum manis yang berkali-kali lipatnya dari senyumku biasanya terukir jelas di pandangannya dan sedetik kemudian dia melontarkan deretan kata yang manis “tunggu, masih ada lagi”, dan terus mengulanginya hingga semua cake itu menguap ke langit.
Malam kembali membawaku ke peristiwa penguapan itu, dan rekaman ingatanku menjabarkan bahwa ketika bunda mencoba untuk tulus memberi, bunda sepertinya menemukan bahwa keinginannya untuk memberi meningkat berlipat-lipat.
Apa yang bunda lakukan adalah bentuk cinta altruistiknya yang di dalam buku Letter to Sam, Daniel Gottlieb menjelaskan cinta altruistik berarti memberikan sesuatu kepada orang lain karena kasih, bukan karena kita berpikir kita harus melakukannya.
Bundaku paham yang dia butuhkan untuk menjadi bahagia adalah melihat anak-anaknya sukses dan bahagia yang berarti kejadian penguapan sangat mungkin terulang di istanaku.
Namun, setelah menjalani hariku dengan kuliah di program master komunikasi, mengajar di bimbingan belajar, di lembaga kursus, kelas privat, menjadi translator dan interpreter, aku masih mendapati bahagiaku belum lengkap.
Peta hidup seorang filsuf mengajariku—hidup adalah rangkaian masalah sulit yang harus dipecahkan dengan sedikit kesenangan. Yang kutahu, yang menjadi kebahagiaanku adalah menjalani aktivitas mimpi-mimpiku yang ingin kembali kulanjutkan—menjumpa dan bereaksi dengan ragam sosial.
Aku tidak bermaksud mengubah dunia ataupun memaksa menjadi berarti bagi orang lain, namun sejujurnya yang aku inginkan adalah aku ingin melakukan sesuatu yang berarti bagi hatiku, sesuatu yang membuatku bahagia.
Bahagia atas nama hidupku adalah merasakan dunia dengan menyelusup menyelami rupa-rupa sisi anak-anak, menghias diri dengan terus memberi dan berbagi, menenggelamkan diri dalam diri manusia yang putih hatinya, berparade dan berpencar menggali kreativitas, menjebakkan diri dalam dunia dan intelektualias manusia yang hilir mudik membangun kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia lainnya. 
Sekali lagi, atas nama hidupku, tak ada panggung seindah itu bagi jiwaku untuk mempelajari apa artinya menjadi manusia dan bahagia.

Sunday, January 29, 2012

menyalami dunianya

Sosok pertama yang kukagumi adalah ayahku. Dia bertubuh kecil, putih, alisnya tebal dan hitam, rahangnya tegas. Ayahku seorang pemuda yang gagah dan cerdas. Hidup dalam keluarga sederhana, menjadi batu loncatan yang besar untuknya menjadi sosok yang luar biasa. Hidup saling berdampingan dalam damai dengan masyarakat di sekitarnya memengaruhi naluri sosialnya kian baik.

Di desanya waktu itu, belum ada sekolah karena jejeran tepi jalan dipenuhi rumah penduduk dan kebun.
Berkeinginan besar untuk mencicip nikmatnya ilmu pengetahuan, dia memutuskan untuk meninggalkan desa, rumah dan orang tuanya. Dia berjalan menjauh, meninggalkan jejak di jalan berbatu, menyusup pada titik hilang di setiap pasang mata yang melepas kepergiannya.

Mimpi untuk berpendidikan lebih tinggi, dijalaninya di asrama angkatan darat di ibukota provinsi kelahirannya. Dia bersyukur bisa membaca, diskusi, dan menuang gagasan. Belajar dari buku-buku yang ia pinjam, ia mulai merasakan dunia, menyalami rupa-rupa pengalaman, menjumpa ragam konflik, mereaksi fenomena, hingga memecah misteri—misteri politik.

Keterpukauannya pada politik serta merta menggiringnya ke universitas terbaik di Indonesia Timur waktu itu. Dia mendaki, berkembang, ilmunya mengganda, hidupnya berpencar ke arah-arah yang tidak tereka. Dan adalah keajaiban dia mulai mendapatkan honor dari mengisi kolom tetap di surat kabar dan majalah politik.

Setelah menyelesaikan sarjananya, dia memulai karir menjadi dosen di universitas itu. Dia melebarkan sayap dalam kolom-kolom bacaan, mengarungi padang ilmu, menyapa dan menerjun pergulatan sengit dalam dunia politik.

Berita sajian televisi negeri dan swasta menjadi santapannya tiap pagi, siang, petang, hingga menembus malam. Dengan begitulah dia berjabat dengan politik dan pemerintah. Berpegang pada teori, bersandar pada mazhab, politik disuarakannya dengan lantang.

Dia menjelma seperti tombak—tegap, tegas, gagah, dan dingin. Sosoknya cerdas memukau, tabiatnya baik, tuturnya santun, rupanya memikat. Tak heran seorang perempuan bermata kecil yang kini kusapa bunda terpikat oleh sosok rupawan sepertinya.

Karirnya menanjak seiring polemik dunia politik memanas. Kelompok diskusi—kosindra* yang didirikannya bersama rekan-rekan pengajar lainnya kian  menjadi. Baginya diskusi tempat beradu, menimba, penuh kritik, konflik, membuntu, meluruskan, jatuh lalu bangkit, kadang meletup, hingga saling membakar. Semua kemungkinan pergulatan hidup dan kekuasaan berhias dalam diskusi—diskusi politik. Dan dia, yah, dia makin memikat.

Tepat pada permulaan tahun 1987, dia memutuskan menikahi perempuan cantik bermata kecil itu. Setahun kemudian, aku lahir dan disusul empat adikku berturut-turut hampir setiap tahunnya. Maklum saja, mereka benar penganut paham banyak anak banyak rezeki. Selain itu, angka lima bisa saja angka paling tenar untuk jumlah anak pada dekade itu.
Aku dibesarkan oleh mereka hingga umur tiga tahun. Ayahku memutuskan untuk lanjut studi master di Ibu kota, didampingi oleh bunda, dan ketiga adikku, dan tentu saja tanpa aku. Aku dititipkan di rumah kakek nenekku bersama tante-tanteku yang semuanya adalah mahasiswi. Yang bertubuh besar adalah mahasiswi ekonomi, yang tubuhnya kecil adalah praktisi ekonomi, dan gadis yang berlesung pipi itu adalah mahasiswi kimia. Tak heran, jika aku menjadi anak yang cerdas dalam membaca dan menghitung sejak usiaku baru menginjak angka tiga. Maka, tak salah kata tetua kita yang menyimpulkan—bergaullah dengan orang cerdas untuk menjadi cerdas.

Kecerdasanku terbukti dengan hasil rapor yang kian membesarkan dada ayah dan bunda. Aku bangga bisa membuat mereka berbangga. Aku tersenyum lebar ketika senyum ayah tersimpul ringan berjabat dengan guruku.
Untuk mendapatkan sesuatu darinya ataupun dari bunda, aku dituntut mengukir prestasi. Meja belajar yang kupikir adalah kewajiban orang tua untuk diberikan kepada sang anak ternyata baru bisa kudapatkan setelah aku berhasil menunjukkan angka satu romawi di kolom peringkat kelas di raportku. Begitulah seterusnya, hingga caturwulan berikutnya, berhasil kudapatkan lemari baru untuk memajang koleksi buku sekolahku.

Yah, begitulah dia mendidikku—mendapatkan sesuatu melalui kerja keras. Hingga ketika aku beranjak dewasa aku pun sadar—benar butuh pengorbanan untuk sebuah penaklukan yang besar.